Beastie Boys, Pionir Hip Hop yang Beranjak dari Hardcore

Apa yang ada dibenak kamu ketika mendengar nama Beastie Boys? Kalau di pikiran saya sih adalah gambaran tentang sekumpulan laki-laki ‘cerewet’ yang memainkan musik hip hop secara asal-asalan. Yaaa, ternyata formula hip hop slengean yang mereka mainkan terbukti memang menyenangkan. Toh lihat saja reputasi mereka hari ini. Mau di ranah hip hop mau pun musik secara umum, nama Beastie Boys adalah nama yang nggak bisa di-dissed begitu saja.

For your information, sebelum memainkan musik hip hop yang ugal-ugalan, mereka adalah sekumpulan remaja yang memainkan musik hardcore punk. Terbentuk di formasi awalnya dengan empat personil, Beastie Boys yang kita kenal hari ini telah mengalami transformasi dan konfigurasi yang lumayan dramatis di bongkar pasang formasinya. Di era awal ketika mereka memainkan musik hardcore punk, Beastie Boys digawangi oleh Adam Yauch yang kelak akan lebih dikenal sebagai MCA, lalu John Berry orang yang memberi nama band “Beastie Boys”, Michael Diamond yang nantinya menggunakan nama Mike D dan Kate Schellenbach sebagai penabuh drum.

via Chart Attack

Terbentuk dengan formasi awal di tahun 1981 dan mengawali perjalannya melalui rilisan berjudul Polly Wong Stew, ternyata formasi orisinal tersebut tidak bertahan lama. Selepas kepergian Berry dan Schellenbach dari Beastie Boys dan masuknya Adam Horovitz yang nantinya dikenal sebagai Ad-Rock di tahun 1983, memaksa Beastie Boys bermetamorfosa menjadi trio hip-hop kulit putih pertama di New York. Tapi transformasi tersebut bukan sekedar hal iseng dari pola pikir para personilnya yang masih proses akil baligh, friend. Mereka pun sebetulnya menyukai musik-musik yang dimainkan oleh para warga Afrika-Amerika macam James Brown, Kurtis Blow, dan diracik sedikit dengan energi letupan ala Bad Brains. Itulah salah satu charm dari Beastie Boys. Mereka bisa menggubah lagu hip hop dengan energi yang punk rock banget.

Lambat laun karir Beastie Boys mulai beranjak dari panggung yang bronx banget jadi panggung musik sungguhan. Rick Rubin, seorang produser musik amatir waktu itu, melihat potensi lebih dari grup hip hop asal New York ini. Rick yang kebetulan juga kolega dari manajer Run-DMC yakni Russell Simmons akhirnya mengantarkan perjalanan Beastie Boys menuju popularitas begitu sangat mudah. Mereka langsung menandatangani kesepakatan rekaman bersama Def Jam untuk single “Rock Hard“. Bisa dibilang inilah turning point karir Beastie Boys secara keseluruhan dan sampai akhirnya bisa menjadi salah satu grup hip hop mahsyur seperti sekarang.

Sampai pada akhirnya, di tahun 1985 mereka didaulat sebagai pembuka konser Madonna pada tur yang ia lakukan. Kesempatan itu sontak memberikan pamor dari trio hip-hop ini semakin menjadi-jadi. Selang setahun kemudian, mereka merilis album pertamanya  yang bertajuk Licensed to Ill dan langsung melejit sebagai album hip-hop pertama yang memuncaki chart Billboard pada kala itu. Lagu “No Sleep Till Brooklyn benar-benar menguasai semua stasiun radio menandakan eksistensi mereka sebagai grup hip-hop yang berbahaya dan keren.

Baca Juga: Beastie Boys Rilis EP Bernuansa Hardcore Punk Pada Layanan Streaming Digital

Formasi Beastie Boys di era Licensed To Ill (via Pinterest)

Di awal debut mayornya, Beastie Boys identik dengan citra grup musik yang gemar berfoya-foya dan ugal-ugalan. Single ngetop mereka yang berjudul “You Gotta Fight For Your Right to Party” sangat mewakili stereotip tersebut. Mereka terkesan melucu dan kelewat konyol. Trek yang menyuarakan vandalisme dan hak untuk berpesta untuk berpesta ini sangat anthemic bagi para remaja remaji yang merasa kebebasan mereka untuk berhura-hura masih dikekang oleh ijin orang tua atau lingkungan sekitar yang konservatif.

Meski mereka kehadiran mereka seperti bermain-main dengan segala bentuk pakem hip-hop yang sudah terjaga dan terawat di New York, mereka terkesan jujur pada diri mereka sendiri. Semua aspek musik dan komunikasi yang mereka kelola di kancah musik serasa bekerja secara kultural dan pada akhirnya mereka diterima sebagai rapper karena mampu menjadi diri sendiri bukan orang lain.


via The Vinyl Factory

Tiga tahun setelah Licensed To Ill, album sophomore mereka yang bertajuk Paul’s Boutique dirilis oleh Capitol Records. Album itu dianggap penting untuk ranah hip-hop karena berisikan kumpulan sampling dan rima-rima provokatif yang dibalut berbagai elemen musik. Mulai dari rock, funk sampai jazz menyelimuti lagu-lagunya ciri khas suara mereka masing-masing. Transformasi musikalitas ini pun terus bergulis di album-album mereka selanjutnya.

Mungkin ada faktor bertambahnya umur dan lingkup sosial baru yang ‘menyadarkan’ Beastie Boys tentang narasi liar yang ada di album awal mereka. Beberapa lagu-lagu Beastie Boys mulai membahas topik yang bobotnya lebih serius, seperti trek “Sure Shot” yang menandai dukungan mereka terhadap gerakan feminis dan “Root Down” yang menekankan para influence dan perspektif musik Beastie Boys secara mendalam. Rilisnya album Hello Nasty di tahun 1998 pun semakin memperjelas bahwa pada saat itu Beastie Boys semakin serius terhadap musik hip hop yang mereka garap.

Dari apa yang mereka lakukan bertahun-tahun sampai sekarang layaknya seperti melihat perkembangan seorang anak remaja yang tumbuh dewasa. Mereka seperti anak tongkrongan liar yang akhirnya tersadarkan karena pengaruh umur dan medan sosial yang mereka tempuh. Beastie Boys membuktikan bahwa mereka bisa menjadi agent of change dalam ranah hip hop dan hardcore. Mereka berhasil membawa beberapa nuansa genre kedalam musik hip-hop yang sebelumnya terdengar membosankan dengan formula musikalitas yang itu-itu saja. Sepertinya sudah menjadi obligatori kalau kalian harus berterimakasih kepada Beastie Boys yang merealisasikan cetak biru hip hop yang lebih bervariasi dan kerap kali diduplikasi oleh banyak musisi rap maupun hardcore di luar sana.

Dengarkan lagu-lagu masterpiece dari Beastie Boys di sini.

*Oleh Reza Ilham

Related Articles

Back to top button