“Basket Case”, Anthem Punk Rock Tentang Mental Issue Yang Masih Relevan Sampai Sekarang

Disamping banyaknya posuer yang memuja Green Day karena hanya sebatas dandanan dasi merah plus kemeja hitam yang mereka pakai di video klip “American Idiot”, yang masih membuat saya geram adalah para ‘kambing musik’ yang menganggap Green Day cuma bagus secara musik saja. Gini, oke lah musik memang untuk dinikmati. Mau itu selewatan atau cuma didengarkan untuk sekedar hiburan doang. Tapi kalau satu musisi atau band itu punya lagu yang ada vokal dan liriknya, tolong disimak dengan seksama dong ah! Karena salah satu bagian krusial dari musik bervokal itu ada di bagian liriknya. Liriknya lah yang memberikan nyawa untuk si lagu. Liriknya juga yang memberikan insight tentang topik apa yang mereka bicarakan. Bukan cuma buat soundtrack joged doang.

Balik lagi ke Green Day, sebetulnya mereka punya banyak banget katalog lagu-lagu yang liriknya super menarik. Nggak cuma soal cinta monyet (walau pun ada sih beberapa, tapi kemasannya tetap oke. Fight me) atau protes buta terhadap pemerintah (iya, menurut saya album-album setelah American Idiot jelek. So what). Contoh konkretnya ada di lagu-lagu yang terdapat di album Dookie, album punk rock 90an pertama yang dirilis lewat label mayor dan laku keras di pasaran. Ya, kamu nggak salah baca. Album punk rock 90an pertama. Bukan album punk pertama. Karena kalau merunut sejarah, justru album-album punk rock gelombang pertama yang dirilis lewat label mayor adalah album Ramones yang pertama di tahun 1976 lalu. Know your history.

Foto: Catherine McGann

Oke, let’s go back to Green Day again. Dari sekian banyak lagu Green Day yang liriknya paling keren, saya rasa Basket Case yang terasa sangat relevan sampai hari ini. Kalau kamu punya akses ke internet dan main sosmed, kamu pasti tahu kalau salah satu bahasan yang paling ‘panas’ di beberapa tahun ke belakang ini adalah topik kesehatan mental. Mulai dari yang beneran membagikan pengalaman dan preskripsi pengobatannya sampai yang cari muka self-declaring sakit mental demi perhatian netizen semata. Pokoknya semua bahasan tentang mental issue rame digoreng deh akhir-akhir ini. Yang menarik dari fenomena ini adalah Billie Joe Armstrong (vokalis dan gitaris) sudah menulis lagu tentang mental issue dan anxiety di tahun 90an lalu dan sialnya, banyak orang yang nggak sadar tentang itu. Memalukan bukan? Para pendengar musik ‘kambing’ hanya menganggap “Basket Case” sebagai soundtrack pogo klasik saja. Uh memuakkan.

Kalau dirunut dari sang penulis lagunya sendiri, Billie Joe menyatakan bahwa “Basket Case” bercerita tentang gangguan panic disorder yang dia sering alami waktu masih muda dan satu-satunya cara untuk menenangkannya adalah dengan menulis lagu. Ya, ini salah satu bentuk katarsis Billie Joe untuk menghadapi masalah mental yang ia hadapi. Bukan dengan cari perhatian di sosmed dengan unggahan foto-foto self-harming padahal di dunia nyata seorang fuckboy/e-girl tukang party sana sini.

Bahkan dari lirik pembuka pun, Billie sudah kebingungan. Apa dia mau cerita atau nggak tentang kondisi mental dia ke pendengar lagunya (‘Do you have the time to listen to me whine about nothing and everything all at once?’). Billie pun merasa tidak yakin dengan kondisi yang dia alami ketika itu. Dia kayak ngerasa itu beneran atau cuma ilusi doang (‘Sometimes I give myself the creeps. Sometimes my mind plays tricks on me’). Bahkan saking nggak yakinnya, dia ngerasa mungkin itu cuma efek giting dari substansi yang dia pakai (‘Am I just paranoid or am I just stoned?’). Gila lho ini, friend. Tahun 1994 Green Day udah nyanyiin lagu tentang mental issue dan mewakili banyak orang yang punya kondisi kayak Billie Joe.

via Google Image

Ironisnya, mungkin karena kondisi Green Day yang sudah masuk ke label mayor saat itu, pendengar musiknya pun mulai datang dari bermacam-macam latar belakang. Dan lagi-lagi sialnya, kalau sudah dihadapkan dengan industri musik mayor, rata-rata kebanyakan pendengar musiknya seragam dan tidak peduli terhadap apa yang diujarkan lewat lirik lagunya, yang penting enak didengerin dan dipakai joged. Ketika dihadapkan dengan kenyataan seperti itu,  saya pun harus membandingkannya dengan pendengar musik yang tidak terlalu memerhatikan musik arus utama. Ada yang membuat pendengar musik cutting edge biasanya lebih handal dalam memaknai lirik di dalam sebuah lagu. Walau pun sering juga ngaco dan sotoy, tapi seenggaknya mereka membaca liriknya. Memahaminya sebagai salah satu bagian penting dari sebuah lagu. Hal itu tentu saja keren karena merupakan bentuk penghargaan besar terhadap sang penulis lagu ketika ada orang yang benar-benar memperhatikan isi hatinya. Apalagi ketika konten lagunya seintens “Basket Case”, bisa saja ada pendengar yang reaching out sang penulis lagu untuk memberikan pertolongan.

So what’s the point of this long writing? Ada dua poin yang ingin saya kemukakan. Satu, Green Day emang keren dan Billie Joe Armstrong merupakan penulis lagu yang handal. Jadi jangan habiskan waktumu untuk mendengarkan band-band pop punk kacangan yang medioker sementara masih banyak emas di tambang yang lama. Kedua, mental issue memang bukan bahasan yang ringan. Tapi medio lagu sebagai katarsis sangat bisa digunakan untuk penyembuhan. Daripada kamu ngutruk di sosmed dan mengganggu orang lain, mungkin kalau curhatnya lewat karya akan terasa lebih melegakan dan tersampaikan dengan baik. Just saying.

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button