Bagi Beberapa Millenials, Pop Punk Adalah Sebuah Fase Yang Tak Terelakkan

Jujur, saya bukan orang yang begitu antusias terhadap pop punk. Saya juga nggak menobatkan bahwa Descendents sebagai ‘tuhan’ dan New Found Glory sebagai ‘nabi’ pop punk. Kalau mau lebih sepseifik, saya tumbuh besar di teman-teman dan lingkungan yang sangat menggilai Britpop. So, saya lebih mengidolakan Damon Albarn dari Blur dan Johnny Marr.

Sebagai orang yang lahir di tahun 90-an akhir, waktu masa belia saya habis oleh proses pencarian jati diri yang kesannya asal-asalan. Nggak pandang bulu, kerap kali saya menjadikan kakak kelas di sekolah atau anggota keluarga yang udah remaja sebagai role model di berbagai aspek. Mulai dari fashion sampai musik. Kasarnya sih, menurut saya apapun  yang mereka pakai itu udah pasti trendy. Dan musik apapun yang mereka dengerin udah pasti keren .

Entah kebetulan atau bagaimana, generasi saya, millenial, sangat erat dengan kehadiran musik emo, screamo, melodic punk dan pop punk. Waktu saat masih belia, saya nggak tahu apa itu perbedaan emo dan pop punk. Jadi yaaa, semuanya saya sama ratakan. Maklum korban tren. Lagian saya sudah jelaskan di paragraf pembuka kalau saya memang lebih suka The Smiths dan Blur.

Lambat laun, akhirnya saya harus menyerah dengan ke britpop-an yang saya serap dari lingkungan saya. Ketika menginjak bangku SMP,  saya ternyata tunduk pada tren musik yang sedang merebak di lingkungan pergaulan saya. Kebetulan Disconnected, Rocket Rockers, Pee Wee Gaskins, Arabian Peunuts sampai Foodcourt lagi sering masuk daftar putar anak muda Bandung kala itu. Ah mungkin, itu fenomena nasional juga sih.

Merch mereka bertebaran di mana-mana. Berbagai flyer pensi dipenuhi dengan logo-logo mereka. Sampai banyak band-band berlomba-lomba untuk menjadi doppleganger dari Dochi Sadega sampai Tom DeLonge. Akuilah, cukup memuakkan ketika pentas seni tahunan sekolah selalu menjadi ajang para senior meneriakan lirik lagu “All The Small Things” dan “Welcoming The Sophomore”.

Nggak cuma musiknya doang, waktu itu (atau mungkin sampai sekarang) Blink 182 pasti jadi acuan untuk definisi pop punk secara fashion. Starterpack seputar baju Famous atau Atticus dipadukan dengan celana Dickies baggy dan sepatu Macbeth atau Vans pasti pernah menjadi amunisi sehari-hari kamu pada saat itu.

Kalau dari segi musik, bisa dipastikan lagu-lagu kayak “Ingin Hilang Ingatan” dari Rocket Rockers atauBerdiri Terinjak” milik Pee Wee Gaskins adalah lagu wajib yang harus mengisi Winamp dan Mp3 ala Nokia Music Express kala itu? Atau ngaku deh, zaman itu lagu semisal “I Miss You” dari Blink 182 dan “Wake Me Up When September Ends” dari Green Day adalah lagu pengantar ke dalam romansa first love kalian. Hayooo~

Mungkin musikalitas musik pop punk yang easy listening, namun berisikan irama yang bersemangat mungkin menjadi faktor mudahnya diterima musik ini di masyarakat, khususnya di kalangan anak muda. Faktanya band pop punk di Indonesia di kala itu emang lagi masif pergerakannya. Jadi banyak pilihan musik dan band ketika kita ingin mendengarkan musik pop punk.

Saya berani jamin kalau orang yang terlahir di pertengahan hingga akhir 90-an pasti terkena fase wave musik pop punk sih. Yaaa, pasti nggak semua orang digging teralu dalam di genre ini, mungkin ada juga yang suka pop punk karena mereka ikut-ikutan tren aja. Mungkin contoh konkretnya adalah saya. Saya akui saya tiba-tiba menyukai pop punk karena pengaruh tren.

Tapi ya nggak salah juga sih kalau emang dengerin suatu musik karena pengaruh tren, toh apresiasi musik adalah sebuah kesadaran menyangkut perasaan dan keadaan. Jadi boleh aja kalian baru suka pop punk di tahun 2020 kalau emang kalian baru ngerasa nikmat sama musiknya dan ngerasa relate sama musik itu sekarang.

Balik lagi ke fase pop punk millenial, saya rasa musik pop punk adalah sebuah fase yang nggak mungkin terlewatkan bagi generasi saya. Meski pun pengaruh dan irisannya cuma sedikit, tapi kehadiran pop punk selalu dirasakan oleh mayoritas orang-orang di generasi saya. Musik ini sempat menjadi tren yang besar di kala itu dan pengaruhnya mewakili emosi sebagian besar anak mudanya. Mengantarkan pop punk sebagai sebagian besar cerita di separuh hidup generasi kita yang lahir di pertengahan dan akhir 90-an.

Mungkin genre ini sudah sedikit tergeser sekarang, tapi militan yang masih menaruh dirinya di genre ini saya yakin juga masih banyak kok, jadi menurut sayasih pop punk is not dead yet. Gimana friend, apa kalian setuju?

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button