Apakah Fan Base Resmi Sebuah Band Masih Relevan di Zaman Sekarang?

Kita dapat memindai bagaimana layanan musik kini sudah menjamur ke berbagai portal sehingga siapapun dapat mudah untuk mengetahui wawasan musik terkini, baik dalam negeri maupun band di berbagai belahan bumi sana, bahkan yang antah berantah sekalipun. Merujuk pada tulisan kawan saya yang baru saja dipublikasikan beberapa waktu lalu, Prabu, eksklusifitas seorang snob kini sudah tak lagi terasa begitu spesial, mengingat setiap orang kini dapat mengakses hal-hal berbau musik dengan jangkauan yang lebih mudah.

Mengandalkan analisa picisan yang tak seberapa, saya rasa kini kebanyakan orang sudah enggan untuk hanya terjebak di satu aliran musik saja. Mudahnya memperoleh layanan musik di era digital ini menjadikan mereka ingin menambah wawasan musik sebanyak-banyaknya. Terlebih, kemungkinan untuk memperolehnya sudah tidak lagi membutuhkan eksklusifitas tersendiri.

Begitupun dengan previlege yang diperoleh oleh fanbase. Di era keemasannya, di mana band-band terkadang menyediakan eksklusifitas bagi mereka yang loyal pada satu band dan tertera namanya dalam fanbase resmi band tersebut, kini mungkin kebanyakan band sudah tidak lagi menerapkan formula tersebut. Meskipun, beberapa lainnya masih tetap menggunakannya.

Beberapa kawan yang sempat mendaftarkan dirinya ke dalam fanbase resmi suatu band mencoba bernostalgia ketika kembali mengenang masa-masa itu. Seakan mendapatkan previlege yang menguntungkan bagi para membernya. Seperti halnya salah satu kawan yang merupakan member dari Rocket Rock Friends (RRF). Keuntungan semisal potongan harga untuk pembelian sebuah merchandise dan tiket konser seringkali mereka dapatkan.

Rocket Rock Friends Pekanbaru dan Komunitas Pemusik Jalanan (haluanpos.com)

Selain itu, ada lagi hal menguntungkan lainnya yang seringkali luput dari perhatian, yaitu kebanggaan tersendiri ketika dapat berkegiatan bersama dengan idolanya untuk disombongkan ketika ada di tongkrongan. “Kayak temen gue cerita pernah makan siang bareng, main voli bareng sama member JKT48 ”. FYI, editor saya sempat menjadi penggemar berat JKT 48. Meskipun tidak mendaftarkan namanya ke dalam fan club resminya.

Namun rasanya, sejauh ini para penghuni fanbase saat ini sudah mulai terkikis. Mungkin hanya menyisakan beberapa fanbase dari band yang masih bertahan hingga saat ini. Sempat melihat bendera Slank yang sering kali hadir bahkan ketika bandnya sendiri tidak menjadi pengisi dalam acara saat itu? Kamu mungkin akan sedikit terheran-heran ketika melihat foto di bawah ini; yang merupakan sebuah gelaran konser Coldplay di Bangkok, Thailand.

Bendera Slank di konser Coldplay (antaranews.com)

Jika kita coba melihat secara keseluruhan, mungkin sudah tak bergitu marak seperti halnya di tahun 2000-an. Konsep fan club kini sudah mulai memudar sedikit demi sedikit. Kehadiran layanan instan dalam musik yang seringkali menjadikan penggemar musik semakin berpencar atau bahkan menonjolkan sisi individualisnya.

Kini rasanya, tipikal orang-orang yang saya sebutkan di atas tadi sudah tidak ingin terikat pada suatu fan club dari satu band saja. Memungkinkan bagi mereka untuk terus menjalar menemukan musik-musik bagus lainnya di luaran sana. Meskipun tak berarti mereka yang masih mengikat diri mereka dalam sebuah fan club resmi tak memiliki kemampuan untuk itu. Namun, saya rasa seperti memiliki tanggung jawab tersendiri. Entah lah, saya belum pernah bergabung dengan fan club manapun.

Beberapa waktu yang lalu, salah satu band metalcore asal Inggris, While She Sleeps baru saja membuat sebuah laman pada platform Patreon yang dikelola dengan konsep fan club yang bernama Sleeps Society. Sebuah portal yang dikhususkan untuk para penggemarnya ini memiliki sistem daring yang dapat diakses secara mudah oleh para anggota terdaftar. Para penggemarnya pun bisa memilih secara bebas tier mana yang ingin mereka pilih, tentu dengan variasi harga dan juga fasilitas yang berbeda. Bagi kamu yang pernah bergabung dengan salah satu fan club sebuah band, tentu ini merupakan sebuah alternatif yang menarik. Meskipun dalam format yang berbeda, nyatanya konsep fan club dapat tetap dijalankan di era serba digital sekarang.

Jangan tersinggung, namun bila saya sendiri berpendapat fan club untuk zaman sekarang ini sudah tidak lagi relevan. Meskipun, bukan berarti sepenuhnya harus ditinggalkan, hanya saja mungkin keeksklusifitasan-nya sudah tidak lagi semenarik dulu. Namun  bagi pihak band, jangan dulu berpikiran atau berpandangan sinis akan datangnya era digital, gelombang ini justru mempermudah kalian untuk memiliki penggemar, bahkan dari arah yang tak disangka-sangka.

Oleh: Ilham Fadhilah

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button