Apa Yang Membuat Pop Punk Sering Dianggap Musik Yang Nggak Serius?

“Dih umur segitu masih dengerin band pop punk. Pantesan susah serius.”

“Jangan mainin pop punk deh, nanti susah manggung. Lagi nggak trendy ‘kan alirannya.”

“Yah, band pop punk mah nggak pernah bener kalau bikin merch. Desainnya kayak bocah.”

Celotehan itu cuma sebagian kecil yang sering kami dengar kalau sedang membahas musik pop punk di tongkrongan atau bahkan dengan sesama rekan pelaku kancah musik. Entah mengapa, anggapan-anggapan seperti itu terhadap pop punk memang terkesan lumrah hari ini. Mungkin bisa jadi karena seiring dengan selera musik orang-orang yang semakin bervariasi dan berkembang, jadinya pengetahuan akan konsep dan latar belakang suatu genre musik menjadi semakin mudah diberi prekonsepsi oleh para pendengarnya. Atau bisa jadi karena genre-genre musik yang mendominasi di zaman ini terkesan “sangat dewasa” dari segi konsep maupun pengerjaannya. Bukan rahasia lagi kalau musik punkterutama subgenre pop punkseringkali identik dengan esensi musik yang “alakadarnya” atau asal ngejreng karena etos dan publikasi yang kerap ditampilkan oleh para pelakunya dari masa ke masa.

Nah, kami menyadari ternyata hal itulah yang kerap terjadi dengan pop punk. Musik yang pernah membuat geger scene hardcore punk di Amerika tahun 80an dan kembali membombardir industri musik global di tahun 90an tersebut malah dianggap musik yang tidak serius.  Kami pun penasaran akan fenomena stereotip itu dan memutuskan untuk menelusuri sekaligus mengamati lebih dalam ke beberapa karya dan band pop punk. Setelah melewati diskusi dan menelaahnya dari berbagai sudut pandang, kami akhirnya menemukan lima stereotip yang mungkin membuat pop punk dianggap musik yang nggak serius. Oh iya, ini semua dilihat dari opini kami ya, jadi maaf-maaf kalau ada yang kurang setuju. Oke, langsung saja inilah stereotip yang pertama…

Topik lagunya yang nggak “rebel

Sejak kemunculannya lewat band-band proto pop punk seperti Buzzcocks, Ramones, atau bahkan Descendents, pop punk sudah menjadi anomali. Di zaman itu, punk masih bersifat ekslusif  dan bahkan serius. Tentu hal itu sangat wajar, karena kemunculan musik punk sendiri dilatar belakangi dengan energi pemberontakan dan protes yang meledak-ledak. Jadi ketika ada band punk yang memainkan musik dengan nada dan struktur yang nge-punk tapi topik liriknya nggak nge-punk, kebanyakan pendengarnya pun menganggap band itu kurang punk.

Ambil contoh band asal Inggris yang seangkatan dengan Sex Pistols, The Buzzcocks. Ketika di tahun 70an akhir band-band punk menyanyikan lantang tentang kebobrokan pemerintah, mereka dengan entengnya bernyanyi tentang cinta. Sama halnya dengan apa yang Descendents alami di tahun 80an. Ketika band-band hardcore punk berteriak tentang kekesalannya terhadap pemerintahan Ronald Reagan, mereka malah bernyanyi tentang makan burger, mancing di pantai, bahkan sosok pacar idaman. Walhasil, kedua band tersebut sering dianggap nggak serius sama pelaku musik dan penontonnya.

Nggak usah jauh-jauh deh, kita ngomongin Blink-182 aja ya. Ketika video klip What’s My Age Again? mulai sering diputar di TV, banyak orang yang menganggap mereka cuma band bercandaan. Belum lagi lirik lagunya yang sudut pandangnya sangat masa remaja sekali. Makin lengkaplah anggapan kalau musik pop punk itu nggak serius. Mulai dari kritikus musik sampai ke band-band punk generasi terdahulu. Tapi yaaa, seiring dengan menjamurnya anggapan seperti itu, toh tetap banyak band-band pop punk yang berhasil sukses karena di waktu yang bersamaan Blink-182 juga membuka pintu untuk band-band sejenis agar bisa naik ke permukaan industri musik.

Personilnya biasanya menampilkan sifat konyol dan humoris

Biar enak buat ngebahas poin yang ini, enaknya kita pakai contoh dua band pop punk sejuta umat deh. Ya, siapa lagi kalau bukan Green Day dan Blink-182. Dua band yang sama-sama terkenal dan punya peran besar buat perkembangan musik pop punk ini punya kesamaan yang bikin mereka sama-sama diingat, yaitu aksi konyolnya di berbagai penampilannya. Entah itu penampilan live mereka atau sekedar interview untuk sesi publikasi karya mereka. Nih tonton aja dua video wawancara mereka yang ngocol biar nggak bingung ngebayanginnya.

Kurang “serius” apa coba tuh interview-nya? Dari jawaban sampai kelakuannya pas menanggapi pewawancara yang spontan dan bikin geleng-geleng kepala. Perilaku atau gimmick seperti ini bisa jadi trigger yang membuat citra pop punk yang menempel di benak khalayak pendengar musik umumnya. Mungkin untuk orang-orang yang memiliki pemahaman esensi punk mengenai freedom of speech dan menjadi diri sendiri, perilaku yang dilakukan Green Day atau Blink-182 di atas panggung maupun ketika sesi publisitas sudah bisa dimaklumi. Namun ketika para pendengar musik yang lebih umum atau yang belum pernah berkenalan dengan musik dan etos punk, apa yang mereka lakukan akan dicerna mentah-mentah dan dianggap sebagai salah satu sifat yang menjadi pembeda antara satu genre dengan genre yang lain. Padahal kalau dipikir-pikir, banyak juga personil band dari genre lain yang sama-sama nyelenehnya. Tapi dalam konteks ini, Green Day dan Blink-182 yang dicap sebagai pop punk ambassador secara tidak sadar memberikan pengaruh bawah sadar kepada khalayak ramai bahwa pop punk harus bertindak dan berpikir seperti mereka.

Walhasil, formula perilaku atau gimmick pop punk yang konyol menjadi sesuatu hal yang wajib dimiliki oleh band-band bergenre serupa karena terinspirasi oleh apa yang mereka lakukan di media.

Artwork album atau merchandise yang bernuansa youthful dan penuh warna

Apa yang ada di dalam benakmu kalau kamu melihat sebuah karya kartun ala komik atau warna-warna cerah yang menarik perhatian? Biasanya hal tersebut akan diberi stereotip dengan esensi masa muda yang ceria. Nah, lagi-lagi beberapa band pop punk di berbagai masa mengimplementasikan elemen ini sebagai artwork untuk karya-karya mereka. Mulai dari cover album sampai desain-desain merchandise mereka. Lagi-lagi kita harus mengambil contoh dari Green Day yang membuat gempar dunia dengan album perdana mayor label mereka yang berjudul Dookie. Cover album tersebut memiliki gambar sketsa ala komik yang penuh warna dan guratan kasar hasil sketsa tangan. Sebuah penyegaran ketika band-band punk serupa di zaman itu (let’s say, Bad Religion atau The Offspring) lebih sering menggunakan artwork yang nuansanya lebih kelam dan dewasa.

Di era millenium, tren ini semakin menjamur dan diimplementasikan ke skala yang lebih besar, yakni merchandise. Band-band semacam Four Year Strong, Forever The Sickest Kids, atau bahkan New Found Glory rajin memproduksi merch dengan warna yang cerah dan desain-desain yang youthful. Dan berbicara tentang warna, tidak semua orang percaya diri atau mau memakai merchandise yang memiliki desain dan warna yang super cerah. Mungkin hanya generasi muda yang tingkat kepercayaan dirinya lebih besar dan lebih terbuka untuk bereksperimen dengan fashion yang mau memakai desain seperti itu. Mungkin dari stereotip tersebutlah banyak orang berpikir kalau pop punk hanyalah sebuah musik untuk anak muda. Bisa jadi dari pilihan artwork dan desain pun tidak berpikir untuk menggaet segmen pasar yang lebih besar. Hmmm menarik juga.

via poshmark.com

Gimana menurutmu? Apakah beberapa anggapan ini masuk akal dan mewakili pop punk secara keseluruhan? Menurut kami, apa pun anggapan banyak orang tentang pop punk, musik tersebut tetaplah musik yang menyenangkan dan tetap enak untuk dinikmati oleh berbagai kalangan. Karena pada dasarnya, karya seni itu kembali lagi kepada selera pribadi. Jadi apa pun orang bilang, kalau menurutmu itu keren, just go with it!

Related Articles

Back to top button