Apa Perlu Mental Issue Di-konten-kan Secara Masif Di Ranah Musik?

Sudah cukup lama rasanya sebagaian orang berjuang dengan kesehatan mental dalam kesenyapan, tak terkecuali musisi. Sebagai salah satu sarana yang ekspresif, musik sebenarnya bisa berfungsi sebagat emotional outlet alternatif dalam menyalurkan kegelisahan tersebut. Dan beberapa tahun ke belakang ini sepertinya beberapa sosok so-called musisi mulai berani (bahkan terang-terangan) menyinggung kesehatan mentalnya sendiri dalam bentuk selain karya musik.

Hari ini isu kesehatan mental sudah bergaung di mana-mana. Atensi terhadap para pengidapnya pun meningkat. Saling menyemangati satu sama lain dan memberikan masukan positif yang bersifat membangun menjadi salah satu bentuk dukungan moral yang paling eksplisit. Setiap orang lebih mudah terkoneksi dan berbagi satu sama lain menjadikan sesuatu yang personal dan (sebelumnya) dinilai privasi pun terpublikasikan dengan cepat.

Baca juga: Menelisik Hubungan Antara Musik Metal dan Kesehatan Mental

Belakangan ini tak sulit rasanya bagi kita untuk bercerita mengenai apapun dan mendapatkan tanggapan dari orang banyak. Apalagi jika kita berbicara tentang musisi papan atas. Modal centang biru di sosial media cukup menjadi jaminan bagi mereka untuk kebanjiran atensi apabila membagikan sesuatu yang memancing perhatian orang banyak, khususnya penggemar mereka.

Namun untuk beberapa kasus, saya sedikit mengernyitkan dahi ketika mendapati unggahan mengenai kesehatan mental mereka yang diselipi dalam bentuk ‘konten’. Yah, saya tak dapat menyalahkan. Toh, mereka lebih dapat memilah mana yang mesti mereka bagikan dan yang tidak. Hanya saja mengingat status mereka sebagai musisi terpandang yang berdiri di atas landasan sosial yang disebut sebagai ‘public figure‘, rasanya harusnya mereka mampu memikirkannya secara matang agar bisa siap menghadapi dampak dari apa yang mereka lakukan. Ayolah, meski sudah sering narasi ‘saya sama-sama manusia biasa’ yang dikumandangkan oleh para so-called musisi berstrata nasional ini, mereka pun harusnya mengerti akan konsekuensi menjadi sosok yang disorot oleh banyak orang. Truth works like that.

Saya tak sekedar sedang bergumam tanpa alasan ketika membicarakan hal ini. Di masa sekarang, permasalah seputar depresi dan anxiety seakan menjadi barang jualan. Itu yang saya tangkap. Setidaknya, saya sempat mengemukakan pendapat sebelum nantinya mendapat banyak cibiran dari berbagai belah pihak karena dicap berpikiran konservatif atau apapun itu. Tentu saya sangat mawas diri terhadap opini ini karena bisa dipastikan hal yang saya kemukakan ini akan memicu pelatuk detonatif di pikiran para SJW. Worry not, discussion is always open.

Anyway, menyambung ke preposisi yang saya ajukan di paragraf sebelumnya, rasanya jauh-jauh hari sebelum isu mental health merebak ke mana-mana, setiap orang sudah problematis sejak dilahirkan. Musisi pun tak terkecuali. Menjadikan musik mereka (baik segi musikalitas atau lirikal) muram dan bernuansa depresif pun tak terelakan. Hal tersebut bukanlah sebuah anomali. Bahkan secara subjektif pun saya sendiri menyukai musik-musik yang memiliki warna demikian.

Let’s say, jika rasa sedih dan depresi dijadikan barang jualan bagi para musisi. Saya rasa sah-sah saja. Para legenda musik pun melakukan hal tersebut tanpa menerima cibiran berarti, bahkan dari para haters-nya. Namun, kiranya hal tersebut mentok di hasil karyanya sehingga interpretasi mengenai ketidakstabilan mental mereka tak menjadi bentuk romantisasi atau over-glorifikasi yang menimbulkan kesan menagih belas kasihan dari orang lain.

Bagaimana yang dilakukan unit punk rock legendaris asal Amerika, Green Day dalam abum ketiga mereka yang berjudul DookieBillie Joe Amstrong (selaku penulis lagu dominan dalam album ini) banyak menuangkan mengenai keraguannya dalam menghadapi kehidupan. Namun tak lantas menjadikan ia sebagai sosok yang populer dengan ketidakstabilan mentalnya. Ia dan bandnya membungkus kegelisahan tersebut dengan rapih tanpa bumbu tragisnya tercecer ke sana-sini.

Baca juga: “Basket Case”, Anthem Punk Rock Tentang Mental Issue Yang Masih Relevan

Green Day (via discogs.com)

Atau siapa yang tidak mengenali sosok mendiang Kurt Cobain? Sebagai saah satu ponggawa yang citranya tak lepas dari Nirvana itu mungkin memiliki kondisi mental yang tidak baik-baik saja. Kita dapat mengetahuinya bahkan tanpa perlu mendalami sosoknya. Namun, apakah semasa hidupnya Cobain pernah speak up (karena saat itu konten belum seberagam sekarang) yang terkesan menagih pengertian dari penggemarnya? Ia justru bersikap seakan wants everybody’s fuck off.

Kurt Cobain (via wikipedia.org)

Meskipun setiap orang memiliki karakter dan cara tanggap yang berbeda-beda. Rasanya saat ini pun tidak sebuta zaman di mana Marshanda melakukan hal yang sama (menunjukan sisi depresifnya melalui suatu konten) yang masih dianggap sebuah ‘ketidak normalan’ Namun, untuk meromantisasi klinisnya penyakit mental melalui suatu konten merupakan bentuk persuasif yang implisit. Meskipun di sisi lain, konten tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orang terhadap kesehatan mental, namun rasanya formula tersebut bukanlah hal yang bijak. This is my truly honest opinion.

Jika kamu  memperhatikan sosok Baskara di moniker Hindia (projek solonya) yang banyak menyuguhkan kebutuhan visual untuk kebutuhan konsernya atau beberapa lagu mengenai kesadaran isu kesehatan mental seperti “Evaluasi”. Namun di sisi lain, ia cukup kental dengan citra tersebut sehingga menjadikan citra yang lekat sebagai seorang ‘melek sekitar’ yang justru menerima banyak cemoohan.

twitter.com/ @wordfangs

Ah saya jadi teringat fenomena yang baru-baru ini muncul soal ini. Belakangan ini diikuti Nadin Amizah sebagai bentuk finalisasinya  Hanya saja Nadin mengemukakan ungkapan personal dari akun twitter-nya yang belakangan cukup mendapat banyak reaksi dari netizen.

Di era serba konten ini, rasanya cukup sulit untuk menemukan batasan di antara itu. Namun, bagaimana pun untuk meromantisasi penyakit mental bukanlah hal yang bijak. Ketika terlihat baik-baik saja dihadapan ratusan atau bahkan jutaan orang sedangkan kondisi mental tengah tidak stabil dinilai menipu diri sendiri. Justru saya melihatnya dari kacamata lain; mereka tengah menunjukan kesehatan mental mereka dengan baik.

Mungkin perbandingan yang saya gunakan sebelum Baskara memang muncul dari timeline yang berbeda dan mungkin juga dirasa tidak apple-to-apple. I get it. Tapi maksud saya menggunakan contoh di masa lalu adalah bagaimana semuanya bisa terasa lebih baik tanpa harus meng-overglorified sesuatu yang seharusnya berkutat di ranah privasi. Ada beberapa hal yang memang seharusnya diselesaikan secara personal atau mungkin kalau kasusnya masalah tersebut membutuhkan ‘dukungan’ dari pihak lain, kayaknya sih lebih enak kalau mengumpulkan suara dukungan itu secara personal aja. Just saying.

Yaaa, saya rasa pembahasan di ranah ini memang belum akan habis dalam waktu dekat sebelum orang-orang menemukan formula komunikasi yang baik soal aspek ini. Tapi hey, manusia adalah makhluk hidup dengan segala macam interpretasi dan opininya. Saya rasa tidak ada salahnya untuk memberikan respon yang berbeda meski tidak populer dan memantik respon wild card setelahnya. All I know, life is never going on a straight way. Stay sane, friend.

Oleh Ilham Fadhilah
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button