Akankah Musik Rock Kembali Diminati Pendengar Muda di 2021?

Setelah beberapa waktu yang lalu salah satu teman saya menggegerkan dunia per-hipster-an dengan tulisan sinisnya mengenai tren Spotify Wrapped, saya selaku editor akhirnya mencoba profiling satu demi satu orang-orang yang mengomentari tulisan tersebut. Kebanyakan sih pada komen lewat jalur pribadi daripada langsung menghantam argumennya di kolom komentar Instagram kami. Di satu sisi, hal itu bodor juga karena seharusnya platform media sosial itu bisa dijadikan sebagai daratan diskusi yang sehat tapi mereka malah milih seek directly and confront. Tapi dari perspektif lain, karena mayoritas yang kena trigger tulisan itu datang dari lingkup pertemanan yang sama, jadinya emang lebih enak kalau diskusi one-by-one.

Anyway, saya pun langsung profiling orang-orang tersebut. Bukan stalking ya, tapi profiling. Saya coba memahami latar belakang dan tendensi orang-orang itu ketika mereka bereaksi terhadap tulisan teman saya. Alih-alih mendapatkan info yang saya inginkan mengenai background check mereka, saya malah menemukan satu kesamaan dari orang-orang tersebut: lagu-lagu yang mendominasi daftar putar Spotify mereka sama-sama berasal dari genre yang serupa. Spesifiknya adalah shoegaze, math rock, dan juga indie pop. Uniknya, mereka semua memiliki range umur yang jatuh pada kategori yang sama, yakni 18-24. Yaaa, ada juga sih yang 30an, tapi itu kayaknya wajar-wajar aja sih. Hal ini lumayan bikin saya tertarik sekaligus bingung. Maklum, umur saya udah masuk kepala tiga dan pemahaman saya akan musik yang menggambarkan manifesto masa muda adalah musik-musik yang ‘cadas’ atau energik. Tapi pas ngecek selera musik mereka, kok malah melenceng dari pemahaman saya ya? Hmmm apakah mungkin saya yang terlalu kolot atau selera musik saya yang sudah ketinggalan zaman?

Baca juga: 25 Lagu Lokal Terbaik Di Tahun 2020!


Tapi sepengamatan saya, tren musik di Indonesia sekitar setengah dekade ke belakang memang lagi bergeser. Terutama untuk segmen di pendengar yang umurnya terhitung masih belia menuju fase akhir remaja. Minat mereka terhadap musik rock lambat laun agak terkikis dengan kisaran pendengaran musikal mereka yang dikuasai oleh musik-musik bernuansa lebih “ringan”. Which is not a bad thing actually, tapi agak mengherankan bagi saya. Sepemahaman saya yang sempat mengalami masa muda, musik rock adalah musik yang mampu merepresentasikan kehidupan di fase-fase gamang dan serba salah ala polemik masa muda. Mungkin konsep itu 10 sampai 15 tahun yang lalu masih terasa relevan, ternyata fenomena ini nggak masuk akal di masa ini. Kini anak-anak muda lebih menggandrungi musik-musik santai yang liriknya bisa mereka resapi untuk direfleksikan atau dipamerkan dengan tautan foto mereka di media sosial. Geli sih, tapi kenyataannya gitu. Yaaa, sebenernya sih nggak sedikit juga jumlah masyarakat muda yang masih suka sama musik rock, tapi kalau aspek tren yang dibahas jadinya emang kalah jumlah istilahnya.

Mungkin ini gegabah, tapi bodo amat, ini opini saya. Saya rasa musik rock akan kembali diminati di tahun 2021. Tenang, opini ini nggak cuma sebatas tulisan tanpa otak seperti celotehan netizen di Twitter dan Lambe Turah. Ini alasan yang pertama: kebosanan terhadap konsep virtual gig.

Setahun ke belakang ini fenomena konser virtual mau nggak mau memang menjadi diminati. Lantaran acara-acara musik masih nggak boleh dihelat demi kemaslahatan semua umat manusia di kondisi rentan virus macam sekarang. Nah ini yang menarik. Kalau diperhatikan lebih seksama, pengadaan aktivasi konser virtual ini memang ditujukan sebagai substitusi konser reguler di mana musisi dan penonton bisa lebur di dalam satu ruangan atau lingkungan yang sama. Konser virtual pun mengaplikasikan konsep interaksi semu yang kesannya ketika sang penonton sedang menikmati konten video tersebut, dia serasa terbawa ke suasana panggung musik tersebut. Tapi lama-lama, nggak sedikit juga komentar netizen yang merasa formula virtual ini mulai membosankan. Karena mereka rindu akan hingar bingar acara musik secara langsung dan hantaman suara dari speaker 3000 watt yang siap mencairkan kotoran di dalam telinga mereka. Lalu musik apa yang bisa dirayakan bersama sebagai momen selebrasi musik yang paling ekspresif dan spontan? Musik rock tentunya.

Baca juga: Polemik Musik di New Normal: Kapan Konser Streaming Akan Berakhir?


Kedua, musik yang “enak untuk diresapi” sudah terlalu membosankan karena terlalu sering didengar di masa-masa stagnan setahun lalu. Akuilah, semua orang butuh hiburan yang punya nuansa eksplosif. Bukan cuma sekedar yang enak ditonton dan diberikan senyuman banal saja. Dalam konteks musik, pendengar musik butuh asupan musik yang bisa membuat mereka terhibur dan bersemangat, nggak selalu gloomy dan reflektif. Dan musik apalagi yang bisa mewakili itu kalau selain musik rock? Saya bisa membayangkan ketika PSBB selesai dan virus sialan ini sudah tamat riwayatnya, gigs-gigs yang memainkan musik rock akan lebih ramai dari pada sebelumnya. Karena semua orang butuh suatu space ekspresif yang ‘bebas’. Bukan hanya diam memangku tangan dan setelah acaranya malah sibuk membahas tentang tata suara dan tata panggungnya yang muram. Setelah semua perasaan tidak enak dan bosan yang harus kita alami setahun ke belakang ini, yang kita butuhkan adalah euforia dan hantaman hormon serotonin yang memuncak sehabis menonton gigs rock!

Tapi itu semua hanya prediksi berdasarkan asumsi saya saja. Karena pada akhirnya, kalau mau berbicara tren musik di zaman sekarang harus berdasarkan eksposur dan algoritma layanan musik digital yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku industri musiknya sendiri untuk bisa membombardir kuping pendengarnya guna pemasukan finansial di setiap ranahnya masing-masing. Meski kenyataan masih tetap pahit seperti itu, saya masih yakin kalau musik rock akan kembali lagi ke permukaan industri musik dengan wajah dan berbagai macam alternatif gaya musik yang baru. Tentunya, ketika hal itu terjadi, kita harus meyakinkan diri sendiri apakah masih mau tetap mengurung diri di dalam lingkup musik yang itu-itu saja atau ikut terjun ke dalam keriaan gegap gempita musik rock yang menjadi perayaan akan kebebasan kita dari masa pandemi yang menyebalkan setahun ke belakang? Your choice.

Related Articles

Back to top button