Ajak Adipati ‘The Kuda’, The Panturas Kembali Berlayar dengan ‘Balada Semburan Naga’

Setelah melabuhkan kapalnya selama beberapa saat, akhirnya The Panturas kembali berlayar pada Jumat (13/11) dengan single terbarunya, Balada Semburan Naga. Jika dibandingkan dengan materi yang ada pada EP ‘Mabuk Laut’ ataupun beberapa single lepas yang telah dirilis sebelumnya, pada rilisannya kali ini The Panturas menyuguhkan nuansa yang cukup berbeda dan melakukan eksplorasi lebih jauh terhadap sound yang telah mereka mainkan sampai saat ini.

Seperti yang bisa terlihat pada beberapa teaser yang telah dilempar melalui akun sosial medianya, bahwa pada ‘Balada Semburan Naga’, The Panturas melakukan pendekatan terhadap budaya Mandarin. Baik dari segi estetika artwork maupun pendekatan musik yang dilakukan. Tapi ternyata, bukan cuma itu, kalau kamu mendengarkan lagunya secara penuh, maka kamu akan menyadari bahwa unsur Betawi juga terasa kental.

Selain adanya penggunaan tehyan (biola khas Betawi) pada aransemen musiknya, hal tersebut dapat diketahui melalui dari bagaimana Acin bertukar celoteh dengan Adipati (The Kuda) yang terdengar seperti gambang kromong yang dibawakan oleh almarhum Benyamin Sueb.

Entah kenapa pada saat pertama kali mendengarnya, saya membayangkan jika Project Pop membuat lagu bernuansa surf-rock, maka hasilnya akan terdengar seperti ‘Balada Semburan Naga’. Tentu dalam konteks yang baik. Gabungan antara aransemen musik yang dibuat secara matang yang dibalut oleh lirik ringan nan jenaka yang mudah dimengerti.

Secara narasi, The Panturas ingin memotret sebuah hal yang sering dirasakan oleh muda-mudi yang sedang berpacaran, yaitu sulitnya mendapat restu (calon) mertua karena status yang dimiliki. Relatable banget itu mah pasti. Selain itu, melalui ‘Balada Semburan Naga’ juga menjadi semacam penanda dari era baru The Panturas dan juga sebagai pengenalan menuju album terbarunya nanti yang berkonsep unik.

“Konsep album kedua nanti ibarat berada dalam sebuah kapal yang berisi banyak orang dari berbagai budaya. Ada Cina, Jepang, Arab, Eropa, Amerika dengan segala cerita dan permasalahan yang dimiliki. Kami merangkul mereka lalu coba menafsirkannya ke dalam musik yang beragam fusion dari surf-rock, garage, rockabilly, arabian, waltz, sampai irama melayu,” ungkap Kuya panjang lebar.

Wah, bakalan menarik banget ini mah, friend. Untuk single perdananya ini, The Panturas sudah melakukan pendekatan terhadap budaya Mandarin, jadi sah rasanya kalau kita semua berekspektasi pada lelagu selanjutnya mereka akan melakukan pendekatan terhadap budaya lain dan juga jenis musik lain yang telah disebutkan sebelumnya.

Untuk sekarang, mari kita nikmati dulu aja single terbaru dari The Panturas ini, sambil menunggu kejutan apalagi yang selanjutnya akan diberikan oleh kuartet rock selancar kontemporer tersebut.

Related Articles

Back to top button