50 Band Potensial asal Bandung yang Mencuri Perhatian

Mencoba mengikuti bagaimana arus musik mengalir di kota Bandung, sejujurnya saya masih awam mengenai hal tersebut  dan juga bahasan lain di dalamnya yang nampak tidak mengenal ujung jika dibahas dan didiskusikan. Bisa jadi karena ada banyaknya elemen saling beririsan mungkin menjadi salah satu faktornya. Banyak pula unsur lain? Mereka yang sudah lama berkecimpung saya kira dapat lebih lugas menjawabnya.

Entah harus mulai dari mana, bergaungnya nama-nama lama yang terus mengisi headline di berbagai gig lokal atau mewarnai suatu label “terpercaya” masih menjadi patokan bagi saya (orang awam yang ingin mengetahui musik lebih jauh) untuk menentukan referensi terkini, khususnya jebolan kota tempat saya tinggal saat ini.

Tak dapat dipungkiri, industri musik kini sudah menjalar ke berbagai medium. Hidup di era digital menjadikan internet sebagai kamus wajib. Mencoba menyelaminya lebih dalam, nyatanya tak sedikit musik-musik bagus lahir di kota ini. Mencakup berbagai genre dan isu-isu segar dalam ramuan repertoar dari nama-nama potensial yang saya rasa dapat menjadi ikon nantinya.

Berikut 50 nama yang saya rasa potensial dan mampu menyita perhatian saya belakangan ini. Siapa tahu kamu juga bakalan suka sama band-band ini. Oh iya, buat dengerin lagu mereka, kamu tinggal klik nama band-nya ya friend. Gow!

1. Glare

Salah satu nama yang pertama kali saya saksikan di Festival Kampung Kota setahun silam cukup vokal dalam menebarkan keagresifan screamo (atau saya perlu menyebutnya skramz?) di kota Bandung.  Mereka sudah berhasil meramu elemen musik ini dalam bentuk EP bertajuk “La Dialettica” sejak 2015 silam.

2. Veisalogia

Masih dalam ramuan post-hardcore/screamo, namun kali ini dibawah tajuk Veisalogia. Unit asal Bandung yang cukup mencuri perhatian belakangan ini. Mereka terakhir memperbarui katalog musiknya pada November 2018 silam lewat EP “Statis”.

3. Hathgone

Baru saja mendengar gaungnya di tahun 2020 lalu lewat single “Broken Psalm”. Hathgone berhasil menyita perhatian dalam kurun waktu yang singkat. Peleburan dari hardcore, crust, sampai metal berhasil di eksekusi maksimal oleh trio hardcore punk ini.

4. Saltdust

Terbilang membawa angin segar dalam pengemasan emo yang dibalut alternative rock di Bandung lewat single semata wayangnya, “Yellow Light”. Terbentuk pada 2019 ini dapat menjadi referensi terkini bagi kalian yang menginginkan nama-nama semacam Basement, Balance And Composure, atau Citizen eksis di kancah lokal.

5. Vibrant

Saya punya kecurigaan mungkin para personil band ini adalah penjelajah waktu. Gila, musik hardcore punk yang mainkan nuansanya kentel banget ala band-band New York Hardcore tahun 1986. Rough and intense! Cocok buat nemenin kamu olahraga two-step di kamar.

6. Maio

Ketukan cepat, vokal ganas, dan distorsi meraung-raung  siap menggerus indera pendengaran kalian dengan racikan apik dibawah nama Maio. Unit yang digawangi Aziz (vokal), Valard.ss (Gitar), Abuy (Gitar), Kikim (Bas), Wisong (drum) telah merilis dua single bertajuk “The Justice Trap” dan “Circle Jerks”  yang memberi atensi pada isu-isu sosial di sekitar, tentunya dengan tingkat kemuakan diatas rata-rata.

7. Taruk

Satu lagi nama yang patut diantisipasi, mereka resmi menyumpal telinga pedengarya lewat EP Sumpal di tahun 2019 lalu. Kini, kabarnya kuartet ini tengah meramu satu lagi rilisan berbahaya dibawah label Grimloc Records.  Siapkan kepalan tangan kalian di moshpit mendatang!

8. Cometrue

Lupakan Youth Of Today, lupakan Rain On The Parade, lupakan romantisasi youth crew 88. Cometrue muncul di era millenium dan tetap punya semangat yang tak padam di lagu-lagu hardcore punk ngebutnya. Bust!

9. Eazz

Projek solo besutan Alfi Fisrifan ini pun terbilang membawa suasana segar untuk kancah musik Bandung bernuansa shoegaze/dream pop. Sejauh ini Eazz sudah menelurkan satu EP bertajuk “Aisle” dan single yang baru dilepasnya belakangan ini, “The Greatest Part From Ocean Eyes”.

10. Breh and The Bangsat

Jatinangor memang surganya band-band ‘aneh’, ya salah satu band aneh-nya adalah Breh and The Bangsat. Meski musik yang mereka mainkan bukan punk rock yang ‘aneh’, tema-tema lagu mereka yang berkutat soal gorengan dan permainan masa kecil bakalan bikin kamu sumringah sambil rusuh di mosh pit.

11. Hockey Hook

Banyak orang bilang ska sudah mati seiring tenggelamnya band-band second wave yang lahir di 90an. Well, persetan dengan opini itu. Hockey Hook siap menjaga ska dan punk rock sampai hari kiamat nanti.

12. Aillis

Beberapa unsur coba diramu oleh Aillis dalam pengemasan katalog musiknya. Ritme musik rumit semacam Cap‘n Jazz atau Algernon Cadwallader dengan karakteristik vokal ala Suis La Lune dan band-band semisalnya merupakan wujud hibrida hasil takaran tepat.

13. Hulica

Rumitnya musik dengan elemen math-rock memang selalu menjadi eksperimen tersendiri ketika dinikmati, dan Hulica menjadi salah satu nama yang berupaya memaksimalkannya. Trio ini tercatat rutin merilis karya sejak tahun 2016.

14. Grief.

Salah satu unit hardcore asal Bandung dengan campuran banyak elemen di dalamnya. Cukup menggugah telinga untuk jingkrak-jingkrak di area mohspit atau sekedar turun dengan emosi tak menentu. Sayang, semuanya harus ditunda dulu sekarang. Saatnya memutar katalog musiknya di laman player!

15. Rounder

Penggabungan musik metal dan hardcore yang cukup apik dibawakan oleh unit berponggawa 5 personel ini. Fikri (vokal), Ramzy (Gitar),  Razaq (Gitar), Bimo (Bas), dan Ihsan (Drum) membentuk Rounder sejak akhir tahun 2017, dan merilis album penuh di awal tahun 2020 kemarin.

16. Grainn

Lahir di tahun 2020, menjadikan Grainn sebagai pendatang baru yang patut untuk diantisipasi. Menjejali telinga kalian dengan kebisingan suara ala shoegaze/alternative rock semisal Nothing atau Slow Crush.

17. Wreck

Split-nya bersama Vague menjadi pengalaman pertama saya mendengarkan band asal Bandung ini. Mungkin menjadi awal yang terlambat, namun cukup terpukau ketika mulai menyelami katalognya yang lebih lama, seperti EP Self-Titled atau We Drift Like Dandelions.

18. Bananach

Tanpa menjadi seksis, saya rasa Bandung memang butuh lebih banyak band yang digawangi oleh perempuan di semua posisinya. Karena hal itu bakalan memacu semangat para wanita lain untuk bermusik. Dan saya rasa, Bananach merupakan salah satu band yang bisa memicu fenomena itu kembali. Ah bassist-nya cowok ya? Bodo amat. Bananach keren.

19. Peel

Unit garage punk jebolan Greedy Dust Records ini memang terdengar serampangan dalam membawakan tembang-tembangnya. Sejak Demo-nya tahun 2018, pada tahun ini mereka rutin memperbaharui katalog musiknya.

20. The Grey Field

Yang pertama terbesit dalam benak ketika mendengarkan The Grey Field mungkin adalah nothing,nowhere. Entahlah, mungkin referensi saya sangat dangkal, hanya saja menyuguhkan sesuatu yang baru menurut pribadi,  mengingat cukup sukar menemukan musik semisal di kancah lokal.

21. Midtown Carousel

Energiknya pop-punk memang selalu membangkitkan gairah ketika mulai menjejali telinga, mungkin salah satu nama ini tak boleh kalian lewati. Midtown Carousel hadir dengan ghirah band-band pop-punk dan punk-rock era 2000-an di Amerika ala band-band di Kung Fu Records.

22. Ametis

Dibentuk tahun 2015, Ametis lahir dengan penuh kengerian yang hadir bersamanya. Elemen post-metal dan hardcore punk suguhannya seakan mengancam, membabat habis kegelisahan kalian akan talenta metal muda skala lokal.

23. Mournful

Mirza (gitar, vokal), Gemma (bas), dan Rizki (drum) di bawah bendera Mournful nampaknya memang terdengar potensial. Membangkitkan kembali gairah post-punk muram dengan segala  keterbaruannya menjadi sebuah nilai lebih, setidaknya bagi saya sendiri.

24. Astrodoom

Unit doom metal asal Bandung yang merilis single “Nuclear Winter” pada 2019 lalu ini beranggotakan Ferdian (vokal, gitar), Fajar (bas, vokal) dan Kandia (drum). Memainkan musik ala metalhead teler dengan takaran berikut; doom, heavy, dan stoner metal.

25. Eyesun

Jika belum pernah mendengar kuartet shoegaze asal Bandung ini, mungkin saatnya bagi kalian untuk segera mencari rilisan EP berjudul “Feel Something” atau katalog lainnya. Suara gitar fuzzy dibanjiri reverb  yang mereka mainkan menjadikan eksistensi band penatap sepatu masih belum sepenuhnya mati di kota Bandung.

26. Galaxies

Bagi saya yang enggak teralu digging musik punk begitu dalam, Galaxies sangat mencuri perhatian. Apa sah jika saya bilang Galaxies itu  punk space? Terdengar seperti ini ketika mendengar vokal yang agak ngawang dan ketukan pemicu moshing. Baru-baru ini mereka kembali merilis EP  dan sudah bisa dibeli atau di dengarkan di laman Bandcamp.

27. Succubus

Kemuraman yang tidak diada-ada membawa Succubus untuk menghasilkan sound paling gelap. Awal tahun ini mereka baru saja merilis Coherence, berisikan tiga trek yang akan membawa kalian pada palung kelam post-punk paling dalam

28. Lamebrain

Musik rock emang selalu terdengar seksi kalau dipadu dengan beberapa elemen lain. Kayak apa yang Lamebrain lakukan di lagu-lagu mereka. Nuansa psychedelic yang lumayan kentara di lagu-lagu mereka bikin pengin goyang.

29. Bitzmika

Pada 2016, mereka merilis single Do the Dougie, lalu 2017 mengibarkan EP pertamanya bertajuk Majestic Prince of Aljabar yang kental dengan surf rock dan suntikan garage rock di dalamnya. EP/2 di rilis pada 2019, tetapi yang mencuri perhatian baru-baru ini mereka menelurkan trek terpisah Bitzmijazz: A Bitzmika Saga yang memperlihatkan eksplorasi genre musik mereka terdengar liar.

30. Brigade of Crow

Metal/punk bastard! Serdadu gagak yang lantang meneriakan “Sistem yang baik adalah sound system!”. Nama mereka mungkin sudah tak asing lagi terdengar, mengingat kiprahnya yang cukup melejit belakangan ini.

31. Kidsway

Meski personilnya udah nggak ‘kids’ lagi, Kidsway mainin hardcore punk yang youthful banget. Sedikit nuansa hip hop yang dipadu dengan musik hardcore terdengar groovy banget. Cool.

32. Ancient

Terakhir sih saya mendengarnya saat bermain bersama band asal Singapur, Zodd dalam helatan DSSTR Showcase Vol.14.  di spasial, Bandung, April 2018 silam. Tak kalah dengan nama-nama lokal sejenis, katalog Ancient terlalu bagus untuk dibiarkan usang.

33. Muchos Libre

BAND ROCK GILA SRUNTULAN. DALLY DAN DILLA, I LOVE YOU.

34. Nearcrush

Meski muka-mukanya nggak muda, tapi nggak apa-apalah. Untung musiknya bagus dan dibentuk secara baru band-nya. Kuartet asal Bandung ini kembali mengingatkan kita kepada band-band alternative rock medio ‘90-an yang dibalut sound modern. Harmonisasi antar kesenjangan dua elemen tersebut menjadikan Nearcrush salah satu nama waib untuk kalian tenggak.

35. Well Whale

Terbilang belia tapi Well Whale bisa jadi pilihan ketika kalian ingin kembali mengulas kejayaan era Sarah Records di telinga kalian. Salah satu records label yang terbilang lama asal Bandung, Maritime Records menaungi kiprah Well Whae pada saat ini. Well salah satu nomor wajib yang harus kalian simpan di rak playlist kalian!

36. Dongker

Unit punk asal Bandung yang di penggawai Delpi ( gitar ), Arno (gitar, vokal) , Bilal ( bas) dan Dzikri (drum) mungkin belum banyak terdengar, tapi lewat demo yang mereka sebar di laman Bandcamp dan EP Upaya Memaki di kanal Spotify  mereka bisa menjadi salah satu teman wajib bersepedah mengitari hutan beton khas kota.

37. Valla

Bagaimana mereka memainan musik mungkin akan melayangkan pikiran kalian pada sosok bermimik wajah datar, stelan compang-camping, dan bertingkah sembrono. Namun, jangan salah, karya mereka cukup untuk menempatkan namanya dalam daftar band potensial dalam kelasnya.

38. Judaist

Diam-diam melata untuk siap menerkammu. Mungkin itu pengumpaan yang paling masuk akal untuk musik sludge/doom metal yang Judaist mainkan. Pelan tapi mematikan.

39. Soft Blood

Indonesia sempat terjangkit tren musik jangly pop ala Mac Demarco beberapa tahun silam. Mungkin Soft Blood merupakan salah satu band Demarco-core yang paling bagus di ranah Bandung dan sekitarnya. Drunken sweet.

40. CJ1000

Sesuai namanya, CJ1000 siap menghantam telingamu dengan musik crossover ala Municipal Waste 1000 kali lipat lebih keras daripada momen kepalamu kejedot tembok.

41. The Battlebeats

One man band yang mainin garage punk/raw rock ‘n roll ini keren banget. Selain lagunya emang keren, konon kabarnya doi bakal rilis 7” di Amerika Serikat. Ini baru keren! ROCK ‘N ROLL!

42. Thirst

Eksistensi mereka mengingatkan saya pada grup besutan Cam Smith , yaitu Hotel Books. Thirst seketika saja nyantol di telinga. Jika kalian memiliki obsesi dengan musik-musik spoken words/post-hardcore, mungkin ini dapat menjadi rujukan lokal terkini.

43. Captivate

Di awal-awal kemunculannya, Captivate memainkan pop punk modern yang tipikal. Tapi di materi mereka yang terbaru, nuansa popnya makin kental dan siap membuatmu jatuh hati di setiap notasinya.

44. Paperhale

Alunan nada elektronik yang bakal menghantarmu ke dimensi lamunan yang tinggi banget. Harusnya lagu Paperhale bisa dipake buat lo/fi 24/7.

45. CurlySound

Kalau membahas musik new wave di Indonesia, beberapa band mungkin masih mengacu ke sound-sound yang lebih disco. Tapi tidak dengan Curly Sound. Mereka menaruh album Joy Division di rak bagian atas lemari mereka dan menyimpan album Depeche Mode rapat-rapat di atas loteng kamar mereka.

46. Uncanny

Semarah Boris, sebising Sonic Youth. Unit noise rock ini punya sesuatu yang band-band serupa di Bandung nggak punya. Yaitu drummer yang jago dan elemen penulisan lagu yang sangat indie rock. Top notch.

47. Oath

Kuartet sludge crust asal kota Bandung bentukan 2012 ini sudah cukup lama tak terdengar kabarnya, terakhir menorehkan single di tahun 2016. Jika meilhat kilas balik katalog musiknya, mereka memang terdengar berbahaya sejak awal.

48. Mondial Express

Bosen nggak sama jazz ala Ardhito atau Danilla? Dengerin duo asal Bandung ini deh. Nuansa bossa yang digabung dengan dentuman renyah perkusi ini mantep banget. Saya berharap mereka bakalan bisa main di Java Jazz secepatnya.

49. Noirless

Salah satu band yang sangat mencuri perhatian saya lewat single Better Left Unsaid  pada 2018, di di tahun yang sama, mereka kembali merilis EP bertajuk CHANGE. Sound hasil senggama mereka sangat memanjakan telinga, tentunya jika kalian terbiasa dengan musik sejenis ini.

50. Puremoon

Pop never dies in Bandung. Musik yang Puremoon mungkin bukanlah hal yang baru di Bandung dan di ranah musik indie pop pada umumnya. Tapi lagu “Realize” merupakan soundtrack yang sempurna untuk mengiringi perjalanan dari rumah ke kantor.

Itu dia band-band yang menurut saya keren dan layak mendapatkan perhatian lebih dari para pendengar musik di Bandung. Semoga tulisan ini bisa menjadi layaknya ‘katalog’ band-band keren di kala kamu jengah sama musik yang itu-itu saja. Enjoy!
*Kerangka tulisan dan konsep awal artikel ini diprakarsai oleh Ilham Fadhilah, seorang mahasiswa Universitas Islam Bandung tingkat akhir dan dikembangkan oleh Prabu Pramayougha.

Related Articles

Back to top button