4 Musisi Punk-Rock yang Punya Pencapaian di Dunia Akademik

Ranah musik dan akademis jika dilihat secara sepintas mungkin akan terlihat bersebrangan. Baik secara karir ataupun disiplin ilmu. Sehingga kebanyakan orang yang ingin menekuni keduanya, seakan berada di persimpangan, mengalami dilema antara ingin menjalankan karirnya berfokus pada bidang akademis, atau malah membangun jalannya sebagai seorang rockstar. Hal ini terjadi juga di sekeliling kita, salah satu contoh paling sederhananya adalah coba hitung ada berapa band teman-teman kalian yang terkesan stuck karena personilnya milih fokus buat kuliah. Saya yakin jumlahnya nggak sedikit.

Tapi pada kenyataannya, ada banyak loh punk-rockers yang berhasil menjalankan keduanya secara bersamaan. Walaupun pada perjalanannya banyak lika-liku yang harus dilewati terlebih dahulu, tapi pada akhirnya para musisi pada list ini berhasil menjalankan keduanya secara seimbang. Hal tersebut juga seakan membuktikan, walaupun mereka seringkali tampil ugal-ugalan dan serampangan di atas panggung, bukan berarti mereka tidak memperhatikan hal-hal akademis.

Pada tulisan kali ini, saya mencoba membuat list mengenai beberapa musisi punk-rock yang memiliki gelar akademis yang sebenarnya terbilang wah bahkan untuk para akademisi secara umum sekalipun.

Greg Graffin (Bad Religion)

Jika kebanyakan professor mengisi waktu luangnya dengan bersantai sambil membaca buku, beda halnya dengan Greg Graffin. Pada sela waktunya ketika tidak mengajar di UCLA, dia menjadi vokalis dari salah satu band punk-rock paling influential sepanjang sejarah, Bad Religion. Greg memang sudah terlihat cukup berbakat pada bidang akademis bahkan ketika awal karir Bad Religion. Selepas SMA, dia mengambil double degree untuk jurusan Antropologi dan Geologi, hingga akhirnya mengejar gelar master dan memperoleh gelar Ph.D. Kurang keren gimana coba, friend?

Menurut Greg, science merupakan bentuk ekspresi pertama dari punk, karena hal tersebut tidak bisa maju tanpa mendobrak pakem yang ada. Beuh, nggak kepikiran saya mah, gimana menghubungkan antara punk dengan science. Cuma Greg Griffin yang bisa begitu. Saat ini Greg mengajar natural science di UCLA dan juga Cornell University. Bisa dibayangin, pas lagi ngajar, kira-kira muterin lagu-lagunya Bad Religion nggak ya?

Dexter Holland (The Offspring)

Sama seperti Greg Graffin, bakat Dexter Holland pada bidang akademis telah muncul bahkan sejak di bangku sekolah. Buktinya adalah dia merupakan murid terbaik pada pelajaran matematika di angkatannya, hal tersebut dapat terjadi karena menurutnya matematika itu, “sama menariknya dengan punk-rock”.

Pada masa kuliahnya, dia kemudian memfokuskan diri pada bidang biologi molekuler. Namun, ketika The Offspring berada pada masa kejayaannya, Dexter memutuskan untuk menunda studinya tersebut dan berfokus pada karir bermusiknya. Hingga pada tahun 2017, akhirnya Dexter mendapatkan gelar PhD-nya dengan melakukan disertasi penemuan urutan MicroRNA pada virus HIV. Mantep banget, kan?

Blake Schwarzenbach (Jawbreaker)

Blake merupakan vokalis dan gitaris dari band Jawbreaker yang dikenal karena kepiawaiannya dalam menulis lirik. Tapi kalau kamu mengetahui latar belakang akademisnya, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang mengagetkan. Pada tahun 1991, personil dari band yang disebut-sebut sebagai pionir dari emo-punk tersebut menjadi lulusan dari Sastra Inggris yang diampunya di New York University.

Eits, bukan itu doang, friend. Ketika pada akhirnya Jawbreaker memutuskan untuk bubar dan Blake memulai proyek Jets To Brazil, dia menerima gelar master untuk mengajar dan akhirnya memulai kehidupannya sebagai professor di Hunter University, New York, sebelum pada akhirnya kembali bersama Jawbreaker pada tahun 2017.

Milo Aukerman (Descendents)

Milo merupakan seseorang yang memiliki kecintaan terhadap dua hal, yaitu punk-rock dan genetik. Hal tersebut kemudian membawanya kepada suatu momen dilematis ketika harus memilih satu di antara dua jalur tersebut. Bahkan “curhatan”-nya dapat kalian dengar melalui lagu-lagu pada album Descendents yang berjudul ‘Milo Goes to College’. Iya, ternyata itu bukan judul gimmick doangan, friend, melainkan memang menceritakan kejadiaan nyata pada saat itu.

Milo juga merupakan musisi yang menunjukkan bahwa seorang nerds juga bisa memainkan musik punk-rock. Selain terlihat dari dandanannya, tema musik yang dibawakan oleh Descendents juga terkesan keluar dari pakem band punk-rock kebanyakan. Hal tersebutlah yang membuat Milo menjadi seorang yang sangat iconic. Sepanjang karirnya, Milo seringkali harus berpindah secara rutin antara karir bermusik dan karirnya sebagai seorang scientist, namun dia dapat melakukannya tanpa masalah. Dia menggunakan musik untuk kabur dari kebosanannya ketika di laboratorium, dan juga sebaliknya. Panutan banget.

Melalui tulisan ini seakan membuktikan bahwa kedua dunia yang terlihat cukup bersebrangan tersebut ternyata pada akhirnya bisa berjalan secara beriringan. Karena sedikit-banyak ternyata latar belakang akademis kita dapat berpengaruh dari cara kita dalam bermusik. Baik itu mungkin dari segi pendekatan, sudut pandang, atau yang paling sederhana, secara lirik. Jadi buat kalian yang sekarang lagi kuliah sambil nge-band, ayo dong coba diseimbangin waktunya. Biar kuliahnya lancar tanpa hambatan, tapi tetap punya karya juga. Mulai sekarang, sebelum semuanya terlambat dan kaduhung~

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Back to top button