RICH FEATURESRICH HIGHLIGHTS

20 Rilisan Lokal Favorit Tim Redaksi Rich Music Tahun 2021

Tahun 2021 akan berakhir dan tak sedikit rilisan-rilisan musik yang keren bermunculan di tahun ini. Ada yang memang menarik, ada pun yang medioker. Yaaa, hal itu lumrah terjadi di dinamika kancah musik. Baik itu di ranah independen mau pun di ranah arus utama.

Setelah menyimak sangat seksama dan memilah-milih banyak rilisan di tahun 2021, kami telah menyiapkan sebuah daftar berisi 20 rilisan favorit kami sepanjang tahun ini. Rilisan yang terdapat di daftar ini memiliki lingkup yang besar. Tak hanya format album, tapi kami pun memasukan rilisan macam single atau EP ke dalamnya. So what, as long as it’s good, we totally love it. Selamat menyimak dan semoga kami tertarik menjajal rilisan favorit kami di daftar ini!

Timeless – Jaguar (album)

Album sophomore dari trio rock alternatif asal Surabaya ini terasa sangat matang dan dewasa. Entah memang karena penulisan lagunya yang lebih dipikirkan atau dari segi tata suara, ketika didengarkan secara menyeluruh Jaguar meninggalkan kesan yang megah dalam konteks positif bagi kami.

Boredom – Shapes, Colors and Lines (EP)

Format post-hardcore yang disuguhkan di era ini lumayan beragam. Beberapa di antaranya kadang memiliki runutan referensi yang seragam dan membosankan. Tapi tidak dengan mini album dari band asal Jawa Timur ini. Meski terbilang bukan format dan referensi musik yang baru, raungan vokal dan penulisan lagu yang terdapat di EP tersebut terdengar sangat jujur dan lugas. They actually put ‘hardcore’ back into post hardcore.

Midnight Meowth – Chibara!! (Single)

Entah mungkin karena generasi musisi hari ini memang sedang banyak masalah dan kemurkaan yang perlu mereka salurkan lewat musik, pasalnya single perdana dari unit melodic hardcore asal Malang ini pun terasa sangat lepas dari segi raungan vokal dan pemilihan tata suara musiknya. Sialnya gara-gara single ini lumayan bagus, kami jadi berekspektasi lebih terhadap rilisan mereka yang selanjutnya.

Muchos Libre – Rock Datang Bulan (album)

Album perdana dari grup rock ugal-ugalan asal Cinunuk ini cukup dideskripsikan dengan tiga kata saja : liar, bising, brengsek. Wajib kamu jajal, friend.

Pijar Cakrawala – Biking After School (single)

Konon lirik lagu ini memang ditulis oleh Pijar sendiri – yang merupakan anak kandung dari vokalis The Upstairs/Morfem, Jimi Multhazam. Namun dari aransemen musiknya sendiri, memang Jimi sekali nuansa lagunya. Indie rock padat dengan pola vokal yang sederhana nan catchy. Seru.

Grrrl Gang – Honey, Baby (single)

SIngle dari unit pop altenatif wahid ini konon mendapatkan reaksi yang cukup beragam dari pendengar sekaligus kritikus musik di Nusantara. Ada yang bilang eksplorasi musik mereka di single ini terlalu jauh karena publik sudah terbiasa dengan nuansa indie pop catchy yang biasa Grrrl Gang suguhkan di karya-karyanya. Menurut kami sih, single ini tetap bagus. Ah mungkin kuping kami saja yang terlalu aneh.

Cotswolds – Windblown (maxi-single)

Cotswolds kembali lebih kuat dan lebih ‘kelam’. Dua lagu yang terdapat di maxi-single ini menarik untuk disimak dan seharusnya bisa mendapatkan eksposur yang lebih mumpuni sebagai rilisan post-rock yang tersempil di hingar bingar musik-musik arus utama yang begitu-begitu saja.

The Bunbury – Hide Me From The Sun (single)

Uh, indie pop. Sebuah genre musik yang problematik. Meski seperti itu, single dari The Bunbury ini patut diacungi jempol dari kami yang bukan puritan musik pop dan hanya pendengar kasual rilisan-rilisan Sarah Records.

Pee Wee Gaskins – Summer Fling (single)

“Ah Rich Music basi bahas pop punk mulu! Mentang-mentang bosnya personil band pop punk juga!” Well, you’re not wrong and it’s the fact. Tapi satu hal yang kami ingin luruskan, meski banyak band pop punk yang masuk ke meja redaksi kami, kebanyakan lagu mereka jelek dan generik. Setidaknya salah satu lagu pop punk yang masuk ke meja kami tahun ini tidak generik dan malah kami acungi jempol karena mereka masih mampu menulis lagu pop punk secara tematis dan konsisten dari kaidah sound-nya. Inilah lagunya. PWG is so much better than your shitty pop rock band who kills the punk entity in it.

Fatrace – Tropical Pleasure (album)

Berbicara soal pop punk, kami jadi semakin yakin bahwa format pop punk di era ini semakin tidak karuan dan cenderung membosankan. Setidaknya masih banyak referensi pop punk yang bisa dikulik tanpa harus mengikuti tren untuk membuat musik yang bagus. Contohnya seperti apa yang Fatrace lakukan di album terbarunya. Kadang untuk menjadi segar, tidak ada salahnya kembali ke preferensi lawas dan melakukannya dengan tata suara mutakhir.

ZIP – self-titled (Album)

ZIP bisa dibilang merupakan unit baru yang sejak kemunculannya langsung menyedot banyak atensi. Saya rasa, kuartet hardcore punk ini memang pantas mendapatkannya, terutama jika dilihat dari torehan album perdananya yang dinamai nama band mereka sendiri ini.

Agresi hardcore punk yang tidak setengah-setengah. Cepat, padat, dan marah. Dari nomor ke nomor, rasanya memang tak ada yang mengecewakan. 

Swellow – Karet (EP)

Asupan mini album alternative/indie rock siap tenggak kali ini dipersembahkan oleh unit hunian Idam (Reid Voltus, The Kuda). Di tahun ini, Swellow  beri perkenalan manis lewat paketan isi lima trek bertajuk Karet

Datang dari Kota Hujan, membuatnya tak mudah untuk merebut banyak telinga, karena memang Bogor kaya akan produksi band-band indie rock keren. Namun, untuk tahun ini, torehan terbaik dari yang terbiak dalam arena tersebut ini mesti disabet oleh Swellow lewat Karet-nya.

Bleach, The Couch Club – Intermezzo (The Bleach Club) (EP)

Sebuah EP lintas genre yang unik sekaligus epik. Grup hardcore dan hiphop asal Bandung, Bleach dan The Couch Club seakan punya formulasi sendiri untuk mendekatkan kedua warna tersebut ke dalam satu rilisan yang mereka sebut dengan Intermezzo.

Mengandung dua trek hardcore dan hiphop yang solid satu sama lain. Di tengah-tengah keduanya, mereka menyelipkan satu nomor hasil kolaborasi cemerlang yang menjadi transisi kedua suara tersebut. Formula yang tidak mudah ditebak. Kejutan yang baik untuk ukuran pemain baru. 

Prejudize – Demo 2021 (EP)

Debut super agresif dari Prejudize, unit hardcore Bandung yang namanya baru saja bergaung tahun ini. Melalui demo-nya, rasanya kamu juga akan mengerti mengapa nama mereka patut diperhitungkan. 

Berisikan empat trek (satu intro), kengerian langsung mereka berikan sebagai sebuah perkenalan yang keras dan kejam. Di sini, mereka seakan tak kenal ampun. Menyuguhkan seluruh performa tergeram dengan tendensi penghancuran dua gendang telinga kamu. Salah satu rilisan hardcore lokal wajib simak di tahun ini. 

Ametis – Ritus Hancur (album) 

Debut album penuh super gawat dari Ametis yang bertajuk Ritus Hancur ini dirilis pada Maret lalu. Meskipun masih menginjak kuartal pertama tahun ini saat waktu perilisannya, rasanya tak ada keraguan untuk menentukan bahwa Ritus Hancur adalah salah satu album hardcore lokal paling bagus di tahun ini. 

Komposisi 11 trek tanpa belas kasihan. Ametis benar-benar tampil dengan wajah paling bengis dari yang pernah mereka tunjukan sebelumnya. Akan sangat merugi jika kamu keluar dari tahun ini tanpa sempat menoleh Ritus Hancur.

Iron Voltage – Immortal Crush (single)

Jika anggapan terhadap thrash metal adalah musik yang terlampau kolot untuk dimainkan lagi hari ini, rasanya kolektif crossover thrash asal Bandung ini akan mematahkan pandangan tersebut dan memecah belahkannya hingga tak lagi berbentuk.

Lewat karya termutakhir sekaligus teranyarnya (sejauh ini), “Immortal Crush” merupakan gambaran bagaimana unsur thrash dapat terdengar apik di era eksplorasi musik yang semakin elastis tanpa harus terdengar lampau. Kawin silang antara thrash metal dan hardcore yang kelewat apik. Menjadikan mereka darah segar buruan penikmat crossover thrash yang kelaparan mencari opsi nama di kancah lokal. 

Disfare – Onslaught (album)

Rilisan super ngebut dari unit grindcore/powerviolence asal Jakarta yang dimuntahkan dalam bentuk album penuh bertajuk Onslaught adalah album yang wajib untuk diantisipasi. 

Performa yang mereka suguhkan dalam Onslaught mampu memuaskan birahi telinga para penikmat hardcore punk sampai puncak klimaksnya. Sebuah album yang intens untuk diputar tanpa skip. 

Skandal – Lemon/Bosan (maxi-single)

Menjadi nama yang tidak terlalu produktif justru menjadikan Skandal memikirkan matang-matang setiap materi yang dirilisnya. Entah lah itu benar atau tidak dalam proses perilisan setiap katalog musik mereka, namun jika didengar dari maxi-single yang mereka rilis tahun ini “Lemon/Bosan” sih, sepertinya memang begitu adanya.

Dua trek yang sebenarnya tak terlalu menyuguhkan sesuatu yang baru. Namun, meskipun kedua lagu ini mempunyai komponen sederhana, namun saya yakin ini bukan perkara mudah. Ditambah, mereka melahirkan (lagi dan lagi) lagu berbahasa Indonesia tanpa harus membuatnya terdengar menggelikan.

Farah Rud – Demo (EP)

Unit screamo asal Malang, Farah Rud tampil dengan menelurkan debutnya yang berupa EP bertajuk Demo di tahun ini. Berisikan empat trek, EP ini saya daulat menjadi salah satu rilisan (real) screamo lokal yang memuaskan telinga. Membangkitkan kembali jiwa Saetia, City of Caterpillar, serta Pageninetynine untuk kembali tersayat dalam alunan serta agresivitas screamo. 

Devil Despize – Agony (EP)

Belakangan ini, Jawa Timur banyak menghasilkan band-band hardcore jempolan. Termasuk juga unit hardcore asal Batu ini, Devil Despize. Di tahun ini, mereka baru saja menelurkan debutnya berupa EP bertajuk Agony 

Sebuah debut yang potensial untuk dinantikan geliat berikutnya. Di sini mereka memaduak beragam elemen dalam musik metal semisal heavy metal serta sepercik liukan glam metal. Memang bukan barang aneh untuk rilisan hardcore, hanya saja mereka mampu meramunya sehingga mampu menghasilkan kulaitas musik yang seksi namun energik.  

Back to top button